Serayupos.com – Amalia Desiana menjadi perempuan pertama yang menjabat sebagai Bupati Banjarnegara, Jawa Tengah, dengan semangat terinspirasi Raden Ajeng Kartini, Senin 20 April 2026. Dalam pernyataannya, Amalia menegaskan bahwa perjuangan Kartini tidak hanya simbol emansipasi, tetapi juga menjadi dorongan nyata bagi perempuan untuk memimpin dan membawa perubahan di tengah masyarakat.

Amalia Desiana menyampaikan bahwa sosok Kartini telah memberikan inspirasi kuat dalam perjalanan kepemimpinannya. Menurutnya, perempuan memiliki potensi besar untuk berkarya dan memberikan kontribusi nyata bagi bangsa. Ia menilai semangat Kartini relevan hingga saat ini, terutama dalam membuka ruang bagi perempuan untuk tampil di sektor publik.

“Kartini menjadi contoh bahwa wanita bisa berkarya dan memberikan perubahan,” ujar Amalia. Pernyataan ini menegaskan komitmennya untuk menghadirkan kepemimpinan yang inklusif dan berdampak bagi masyarakat Banjarnegara.

Menjadi Bupati perempuan pertama di Banjarnegara bukan perkara mudah bagi Amalia Desiana. Ia harus menghadapi berbagai stigma sosial yang masih berkembang di masyarakat. Pandangan yang membatasi perempuan hanya pada peran domestik menjadi tantangan tersendiri yang harus ia hadapi sejak awal menjabat.

Berbagai anggapan seperti perempuan tidak mampu bekerja hingga malam hari atau tidak setara dengan laki-laki menjadi hambatan yang harus ia patahkan. Namun demikian, Amalia mengaku bahwa tantangan tersebut justru lebih banyak datang dari persepsi masyarakat, bukan dari lingkungan birokrasi.

Di lingkungan pemerintahan, Amalia menyatakan tidak mengalami kendala berarti. Ia mampu beradaptasi dengan organisasi perangkat daerah yang sebagian besar diisi oleh laki-laki. Hal ini menunjukkan bahwa profesionalisme dalam birokrasi dapat berjalan tanpa memandang perbedaan gender.

Selain stigma sosial, Amalia juga menghadapi tekanan ekspektasi publik yang tinggi. Banyak masyarakat berharap berbagai persoalan daerah dapat segera diselesaikan dalam waktu singkat. Padahal, menurutnya, sejumlah persoalan tersebut telah berlangsung selama bertahun-tahun dan membutuhkan proses panjang untuk diselesaikan.

“Saya tidak bisa menjadi wonder woman yang menyelesaikan semua masalah di Banjarnegara dalam sekejap,” ungkapnya. Ia menegaskan bahwa perubahan memerlukan kerja sama dan waktu, bukan solusi instan.

Di tengah kesibukannya sebagai kepala daerah, Amalia tetap menjalankan perannya sebagai ibu. Ia menilai dukungan keluarga, khususnya suami, menjadi faktor penting dalam menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Pembagian peran dalam keluarga dinilai sangat membantu dalam mendampingi anak-anak.

“Kami berbagi peran, terutama untuk mendampingi anak-anak. Dukungan suami sangat berarti,” jelasnya. Pernyataan ini mencerminkan pentingnya dukungan keluarga bagi perempuan yang berkarier di ruang publik.

Sebagai pemimpin, Amalia menegaskan bahwa dirinya tidak anti kritik. Ia justru membuka ruang seluas-luasnya bagi masyarakat untuk memberikan masukan. Kritik yang konstruktif dinilai penting sebagai bahan evaluasi dalam menjalankan pemerintahan.

Namun, ia juga menyoroti maraknya kritik yang disampaikan melalui akun anonim di ruang digital. Menurutnya, kritik semacam itu sering kali tidak disampaikan secara jelas dan tidak bertanggung jawab, sehingga sulit dijadikan bahan perbaikan.

Amalia menyadari bahwa dirinya memiliki keterbatasan sebagai manusia. Oleh karena itu, ia mengajak masyarakat untuk bersama-sama berperan dalam pembangunan daerah. Ia juga mengingat pesan almarhum ayahnya, Budhi Sarwono, sebagai motivasi untuk terus melanjutkan perjuangan demi kemajuan Banjarnegara.

Dengan semangat Kartini dan dukungan berbagai pihak, Amalia Desiana optimistis dapat membawa perubahan yang lebih baik bagi Banjarnegara. Kepemimpinannya diharapkan menjadi inspirasi bagi perempuan lain untuk berani tampil dan berkontribusi di berbagai bidang.