Setahun Ahmad Luthfi dan Taj Yasin Pimpin Jateng, Ekonomi Tumbuh Kemiskinan Turun
Satu tahun kepemimpinan Ahmad Luthfi dan Taj Yasin di Jawa Tengah mencatat pertumbuhan ekonomi 5,37 persen dan penurunan angka kemiskinan.
Serayupos.com – Tepat satu tahun Komjen Pol Purn Drs Ahmad Luthfi SH SStMK bersama Taj Yasin Maimoen memimpin Jawa Tengah periode 2025–2030, berbagai capaian diraih di tengah dinamika bencana dan tantangan pembangunan, dengan pertumbuhan ekonomi mencapai 5,37 persen pada triwulan IV 2025 serta penurunan angka kemiskinan menjadi 9,39 persen pada September 2025, berdasarkan data Badan Pusat Statistik.
Selama setahun terakhir, Jawa Tengah menghadapi beragam bencana hidrometeorologi seperti banjir bandang dan tanggul jebol di Demak, rob di Sayung, longsor di lereng Gunung Slamet wilayah Banjarnegara dan Cilacap, hingga tanah gerak di Kabupaten Tegal. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah merespons dengan langkah komprehensif, mulai dari penanganan darurat, distribusi bantuan, hingga pemulihan pascabencana secara simultan dan berkelanjutan.
Di tengah situasi tersebut, program prioritas tetap berjalan. Ahmad Luthfi dan Taj Yasin menggulirkan berbagai kebijakan di sektor infrastruktur, investasi, pendidikan, kesehatan, dan ekonomi kerakyatan. Program Dokter Spesialis Keliling menghadirkan layanan kesehatan gratis ke daerah, sementara Sekolah Kemitraan dan beasiswa santri membuka akses pendidikan lebih luas. Perbaikan Rumah Tidak Layak Huni dan program Rumah Rakyat juga digencarkan untuk meningkatkan kualitas hunian warga.
Pertumbuhan Ekonomi Jateng di Atas Nasional
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah pada triwulan IV 2025 sebesar 5,37 persen secara tahunan, melampaui rata-rata nasional yang berada di angka 5,11 persen. Capaian ini menempatkan Jawa Tengah sebagai provinsi dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi kedua di Pulau Jawa.
Realisasi investasi sepanjang 2025 mencapai Rp88,50 triliun, terdiri dari Penanaman Modal Asing sebesar Rp50,86 triliun dan Penanaman Modal Dalam Negeri sebesar Rp37,64 triliun. Nilai tersebut menjadi yang tertinggi dalam satu dekade terakhir. Sebanyak 105.078 proyek terealisasi dengan penyerapan tenaga kerja mencapai 418.138 orang.
Kinerja ekonomi ini turut tercermin pada Produk Domestik Regional Bruto per kapita yang naik menjadi Rp50,82 juta atau tumbuh 5,9 persen dibanding tahun sebelumnya. Tingkat pengangguran terbuka per November 2025 tercatat 4,32 persen, relatif terjaga di tengah dinamika ekonomi global.
Kemiskinan Turun dan Ketimpangan Menyempit
Pertumbuhan ekonomi tersebut berdampak pada penurunan angka kemiskinan. Pada Maret 2025, tingkat kemiskinan Jawa Tengah berada di angka 9,48 persen, kemudian turun menjadi 9,39 persen pada September 2025. Jumlah penduduk miskin tercatat 3,34 juta orang, berkurang 21,87 ribu orang dibanding Maret 2025 dan turun 51,52 ribu orang dibanding September 2024.
Rasio gini pada 2025 berada di angka 0,350 yang mengindikasikan ketimpangan pendapatan semakin menyempit. Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen menegaskan bahwa capaian ini harus terus dijaga dan diarahkan pada program yang menyentuh langsung masyarakat.
“Angka kemiskinan kita bisa turunkan, kita semakin baik, maka Indeks Pembangunan Manusia harus kita tingkatkan,” ujarnya. Saat ini IPM Jawa Tengah berada pada angka 74,77 dan masih menjadi pekerjaan rumah untuk ditingkatkan melalui akses pendidikan dan layanan dasar yang lebih merata.
Taj Yasin juga menekankan pentingnya alokasi anggaran yang fokus pada penurunan kemiskinan secara masif, termasuk memperluas akses pendidikan bagi kelompok disabilitas agar kualitas hidup mereka meningkat.
Collaborative Government dan Dampak Nyata
Ahmad Luthfi menyebut pendekatan pembangunan yang diterapkan sebagai collaborative government, yaitu menggandeng bupati dan wali kota, perguruan tinggi, pengusaha, investor, provinsi tetangga, hingga organisasi masyarakat. Menurutnya, Pemerintah Provinsi dan kabupaten kota tidak bisa berjalan sendiri.
“Kita gandeng beberapa kampus dan seluruh potensi masyarakat. Collaborative government ini cara bersama-sama untuk membangun Jawa Tengah,” ujarnya.
Dampak kebijakan tersebut mulai dirasakan masyarakat. Pada Agustus 2025, sebanyak 2.000 Keluarga Penerima Manfaat di Kabupaten Brebes resmi keluar dari data kemiskinan dan tidak lagi menerima bantuan sosial. Mereka dinyatakan mandiri secara ekonomi.
Salah satu warga Brebes, Setia Puji, mengaku pernah menerima bantuan sosial sejak 2020 hingga 2025. Setelah kembali dari ibu kota tanpa pekerjaan tetap, ia mengembangkan usaha bakso keliling. Kini usahanya berkembang dan mampu mencukupi kebutuhan keluarga. “Bantuan kemarin sangat meringankan beban kami. Tetapi motivasi saya harus bisa mandiri. Kini ekonomi kami lebih mampu,” katanya.
Capaian Jawa Tengah juga mendapat apresiasi dari berbagai pihak, termasuk Ketua Dewan Ekonomi Nasional Luhut Binsar Pandjaitan yang menilai kolaborasi pemerintah daerah berhasil menjadikan Jateng sebagai magnet investasi.
Sepanjang 2025, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah meraih sedikitnya 40 penghargaan dari berbagai lembaga. Namun Ahmad Luthfi menegaskan penghargaan bukan tujuan akhir. “Penghargaan adalah pengingat agar kebijakan benar-benar berdampak, melayani masyarakat, menjaga integritas, menstabilkan ekonomi, dan membuka ruang investasi seluas-luasnya,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa membangun Jawa Tengah adalah proses merawat yang berkelanjutan. Masih ada persoalan yang harus diselesaikan dan kolaborasi tidak boleh berhenti. Menurutnya, tugas melayani rakyat merupakan amanah yang tidak mengenal akhir.
Satu tahun kepemimpinan Ahmad Luthfi dan Taj Yasin menunjukkan kombinasi respons cepat terhadap bencana, penguatan investasi, serta fokus pada kesejahteraan sosial. Tantangan masih ada, terutama peningkatan kualitas sumber daya manusia, namun fondasi pertumbuhan dan pengurangan kemiskinan telah mulai terbentuk.
0 Komentar