Aktivitas Gunung Slamet Meningkat, BPBD Banyumas Siapkan Langkah Siaga
Peningkatan aktivitas Gunung Slamet mendorong BPBD Banyumas memperkuat kesiapsiagaan dan koordinasi lintas daerah guna mengantisipasi potensi erupsi.
Serayupos.com – Aktivitas Gunung Slamet yang melintasi lima kabupaten di Jawa Tengah dilaporkan meningkat dalam beberapa hari terakhir, sehingga BPBD Kabupaten Banyumas menggelar langkah kesiapsiagaan, Senin, 20 April 2026. Berdasarkan laporan yang dilansir dari Suara Merdeka Wawasan, peningkatan ini ditandai dengan kenaikan suhu kawah serta aktivitas kegempaan yang terpantau dari pos pengamatan resmi.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Banyumas, Dwi Irawan Sukma, menyampaikan bahwa pihaknya terus memantau perkembangan aktivitas vulkanik Gunung Slamet, khususnya terkait perubahan suhu kawah dan indikator lainnya. Ia menegaskan bahwa meskipun wilayah Banyumas bagian selatan relatif aman, kewaspadaan tetap ditingkatkan sebagai langkah antisipasi.
“Kami terus memantau perkembangan aktivitas vulkanik tersebut, terutama terkait kenaikan suhu kawah dan indikator lainnya,” ujar Dwi Irawan, mengutip laporan Suara Merdeka Wawasan. Ia menambahkan bahwa tren peningkatan kembali terlihat setelah sebelumnya sempat mengalami penurunan dalam beberapa waktu terakhir.
Data dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi menunjukkan adanya peningkatan suhu kawah dari 461 derajat Celcius menjadi 478 derajat Celcius pada 18 April 2026. Kenaikan ini memperkuat indikasi adanya aktivitas magma di dalam perut Gunung Slamet yang perlu diwaspadai secara serius oleh semua pihak terkait.
Selain kenaikan suhu, aktivitas kegempaan juga tercatat meningkat. Berdasarkan data Magma Indonesia, terjadi beberapa jenis gempa yang mengindikasikan pergerakan material di dalam gunung. Aktivitas tersebut meliputi gempa hembusan, gempa frekuensi rendah, hingga gempa tektonik jauh dengan durasi dan amplitudo yang bervariasi.
Secara rinci, tercatat tujuh kali gempa hembusan dengan amplitudo 3 hingga 5 milimeter, serta 17 kali gempa frekuensi rendah dengan amplitudo 3 hingga 4,5 milimeter. Selain itu, terdapat dua gempa tektonik jauh dan satu gempa tremor menerus yang turut menjadi perhatian para ahli vulkanologi.
Kondisi ini mendorong BPBD Banyumas untuk meningkatkan koordinasi dengan berbagai pihak. Tidak hanya di tingkat kabupaten, koordinasi juga dilakukan bersama Badan Geologi dan BPBD dari wilayah lain yang berada di sekitar Gunung Slamet, seperti Purbalingga, Pemalang, Tegal, dan Brebes.
Sebagai langkah konkret, BPBD Banyumas berencana menggelar rapat koordinasi lintas daerah pada 23 April 2026 di Purwokerto. Agenda tersebut akan membahas strategi kesiapsiagaan serta langkah mitigasi yang perlu dilakukan jika aktivitas Gunung Slamet terus meningkat dalam waktu dekat.
Dalam rapat tersebut, sejumlah hal yang akan dibahas antara lain:
- Penguatan sistem peringatan dini
- Kesiapan jalur evakuasi masyarakat
- Koordinasi antarwilayah terdampak
- Edukasi kebencanaan bagi masyarakat
Dwi Irawan menegaskan bahwa meskipun Banyumas berada di sisi selatan Gunung Slamet yang relatif lebih aman dibandingkan wilayah utara, masyarakat tetap diminta tidak lengah. Beberapa kecamatan seperti Baturraden, Sumbang, Kedungbanteng, dan Cilongok menjadi wilayah yang dipantau secara intensif.
Di sisi lain, aktivitas wisata di kawasan Baturraden masih dinilai aman untuk dikunjungi karena lokasinya cukup jauh dari kawah puncak. Namun demikian, masyarakat dan wisatawan tetap diimbau untuk mengikuti informasi resmi dari pemerintah dan tidak mudah percaya pada kabar yang belum terverifikasi.
BPBD juga mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan mandiri masyarakat. Warga diminta memahami jalur evakuasi serta langkah yang harus dilakukan jika terjadi kondisi darurat. Edukasi ini dinilai penting untuk meminimalkan risiko apabila terjadi peningkatan aktivitas yang lebih signifikan.
Sementara itu, sebelumnya Badan Geologi telah memperluas radius aman di sekitar kawah Gunung Slamet dari dua kilometer menjadi tiga kilometer sejak 4 April 2026. Status gunung ini masih berada pada level Waspada atau Level II, dengan indikasi peningkatan aktivitas berdasarkan pengamatan visual dan data instrumental.
Kenaikan suhu kawah yang signifikan, dari sekitar 247,4 derajat Celcius pada September 2024 menjadi lebih dari 460 derajat Celcius pada April 2026, menjadi salah satu indikator utama. Selain itu, citra termal juga menunjukkan adanya perluasan area panas di sekitar kawah yang membentuk pola melingkar.
Dengan kondisi tersebut, BPBD Banyumas berharap aktivitas Gunung Slamet dapat segera stabil. Namun, seluruh pihak tetap diminta menjaga kewaspadaan dan kesiapsiagaan demi mengantisipasi potensi bencana yang dapat terjadi sewaktu-waktu.
Widget Terkait
Widget Inline Video
0 Komentar