Data dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi menunjukkan adanya peningkatan suhu kawah dari 461 derajat Celcius menjadi 478 derajat Celcius pada 18 April 2026. Kenaikan ini memperkuat indikasi adanya aktivitas magma di dalam perut Gunung Slamet yang perlu diwaspadai secara serius oleh semua pihak terkait.

Selain kenaikan suhu, aktivitas kegempaan juga tercatat meningkat. Berdasarkan data Magma Indonesia, terjadi beberapa jenis gempa yang mengindikasikan pergerakan material di dalam gunung. Aktivitas tersebut meliputi gempa hembusan, gempa frekuensi rendah, hingga gempa tektonik jauh dengan durasi dan amplitudo yang bervariasi.

Secara rinci, tercatat tujuh kali gempa hembusan dengan amplitudo 3 hingga 5 milimeter, serta 17 kali gempa frekuensi rendah dengan amplitudo 3 hingga 4,5 milimeter. Selain itu, terdapat dua gempa tektonik jauh dan satu gempa tremor menerus yang turut menjadi perhatian para ahli vulkanologi.

Kondisi ini mendorong BPBD Banyumas untuk meningkatkan koordinasi dengan berbagai pihak. Tidak hanya di tingkat kabupaten, koordinasi juga dilakukan bersama Badan Geologi dan BPBD dari wilayah lain yang berada di sekitar Gunung Slamet, seperti Purbalingga, Pemalang, Tegal, dan Brebes.

Sebagai langkah konkret, BPBD Banyumas berencana menggelar rapat koordinasi lintas daerah pada 23 April 2026 di Purwokerto. Agenda tersebut akan membahas strategi kesiapsiagaan serta langkah mitigasi yang perlu dilakukan jika aktivitas Gunung Slamet terus meningkat dalam waktu dekat.

Dalam rapat tersebut, sejumlah hal yang akan dibahas antara lain:

  • Penguatan sistem peringatan dini
  • Kesiapan jalur evakuasi masyarakat
  • Koordinasi antarwilayah terdampak
  • Edukasi kebencanaan bagi masyarakat

Dwi Irawan menegaskan bahwa meskipun Banyumas berada di sisi selatan Gunung Slamet yang relatif lebih aman dibandingkan wilayah utara, masyarakat tetap diminta tidak lengah. Beberapa kecamatan seperti Baturraden, Sumbang, Kedungbanteng, dan Cilongok menjadi wilayah yang dipantau secara intensif.

Di sisi lain, aktivitas wisata di kawasan Baturraden masih dinilai aman untuk dikunjungi karena lokasinya cukup jauh dari kawah puncak. Namun demikian, masyarakat dan wisatawan tetap diimbau untuk mengikuti informasi resmi dari pemerintah dan tidak mudah percaya pada kabar yang belum terverifikasi.